Polusi Udara Merajalela Langit Jakarta, Bagaimana Dunia?

Agustus 27, 2023 igsd

Sumber: id.pinterest.com

 Seiring dengan perkembangan kehidupan dan meningkatnya kebutuhan, pemanfaatan sumber daya berupa air, tanah, udara, dan segala sumber daya alam yang terkandung di bumi dilakukan manusia dalam memenuhi kebutuhan hidupnya. Namun, perlu diingat bahwa sumber daya tersebut merupakan anugerah yang diberikan oleh Tuhan dengan jumlah ketersediaan yang terbatas. Oleh sebab itu, diperlukan adanya pemanfaatan, pengelolaan, dan pelestarian agar sumber daya alam yang terbatas dapat terus dimanfaatkan untuk memenuhi kebutuhan hidup manusia. Dalam menunjang kehidupan makhluk hidup diperlukan kualitas lingkungan hidup yang baik agar dapat memberikan daya dukung yang optimal bagi kelangsungan hidup manusia. Salah satu unsur yang sangat dibutuhkan untuk menunjang keberlangsungan makhluk hidup adalah udara. Udara merupakan salah satu elemen penting bagi kehidupan makhluk hidup. Faktanya, udara yang ada di lingkungan saat ini memiliki kualitas yang kurang baik bagi kehidupan manusia. Permasalahan yang saat ini sering ditemui adalah pencemaran udara.

Pencemaran udara atau sering kita dengar dengan istilah polusi udara diartikan sebagai adanya bahan-bahan atau zat-zat asing didalam udara yang menyebabkan perubahan susunan atau komposisi udara dari keadaan normalnya. Pencemaran udara disebabkan oleh berbagai macam zat kimia, baik berdampak langsung maupun tidak langsung yang semakin lama akan semakin mengganggu kehidupan manusia, hewan dan tumbuhan. Sedang terjadi bahasan yang cukup hangat di kalangan media sosial terkait buruknya kualitas udara di Jakarta. Penyebab dari fenomena ini sangatlah banyak dan bervariasi mulai dari faktor alam, sosial, hingga ekonomi. Akibat dari cuaca yang panas menyebabkan kenaikan udara yang semakin buruk karena tidak adanya hujan yang turun di wilayah tersebut. Selain itu, faktor kendaraan dan industri yang menyumbang polusi terbesar juga menjadi faktor lainnya.


Sumber: katadata.co.id

Tingginya angka kasus pencemaran udara yang terjadi di Indonesia, khususnya terjadi di kota-kota besar seperti Jakarta, membuat Indonesia dinobatkan sebagai negara dengan peringkat ketiga dengan kualitas udara terburuk di dunia. Hal ini sangat disayangkan karena kondisi alam dan geografis Indonesia yang dikenal sebagai paru-paru dunia, justru Indonesia menjadi salah satu negara penyumbang polusi terbesar dunia. Indeks kualitas udara di Jakarta berada di angka 152 dengan polutan utamanya yakni PM 2,5 dan nilai konsentrasi 57 µg/m³ (mikrogram per meter kubik). Konsentrasi PM2,5 di Jakarta saat ini 10 kali nilai panduan kualitas udara tahunan WHO. Di Jakarta, yang berpenduduk lebih dari 11 juta orang, rata-rata penduduk akan hidup 5,5 tahun lebih pendek jika tingkat PM2.5 tetap bertahan pada tingkat saat ini, dibandingkan dengan jika ambang pedoman WHO dipenuhi. Menurut WHO, standar kualitas udara ideal memiliki bobot konsentrasi PM 2,5 antara 0 sampai 5 mikrogram per meter kubik.


Sumber : www.goodstats.id

            Berdasarkan data dari IQ Air, Kota Jakarta dinobatkan sebagai kota dengan kualitas udara terburuk nomor 2 di dunia per 15 Agustus 2023, yaitu 170 AQI US yang masuk kategori “tidak sehat”.  Buruknya kualitas udara di Jakarta disebabkan karena musim kemarau yang menyebabkan kualitas udara yang cenderung naik. Pasalnya, Kepala BMKG, Dwikorita Karnawati, mengatakan bahwa puncak dari kemarau kering terjadi di bulan Agustus sampai dengan September sehingga masyarakat diimbau dapat menghemat penggunaan air sebab kondisi udara kering semakin meningkat. Hal ini diperparah dengan terjadinya El Nino atau fenomena pemanasan suhu muka laut yang berdampak pada berkurangnya curah hujan dan meningkatnya kekeringan. Udara kering dan curah hujan yang rendah sedikit banyaknya mempengaruhi tingginya pencemaran udara yang terjadi di Indonesia, khususnya di Jakarta. Penyebab lainnya polusi udara di Jakarta adalah letak geografis Jakarta yang terkepung 16 Pembangkit Listrik Tenaga Uap (PLTU) berbahan dasar batubara. Selain itu, tingginya penggunaan kendaraan bermotor sebagai moda transportasi masyarakat turut menyumbang polusi udara. Berdasarkan data BPS, jumlah kendaraan bermotor tahun 2022 di Jakarta sebanyak 26,37 juta unit, yang kini menyumbang polusi udara sebesar 44% dari penggunaan bahan bakar kendaraan bermotor.  


        Berdasarkan arahan dari presiden Indonesia, Bapak Joko Widodo, memberikan pendapat terkait solusi untuk meningkatkan kualitas udara menjadi lebih baik dan menghindari dampak akibat polusi udara di Jakarta adalah dengan bekerja secara hybrid. Hal ini menjadi opsi pilihan untuk mengurangi volume kendaraan yang memperparah kualitas udara, disisi lain dengan mengurangi paparan udara di luar ruangan menjadikan dampak dari polusi udara menjadi lebih minim. Selain itu berdasarkan kajian studi seperti pembatasan emisi juga menjadi poin penting untuk mengurangi polusi udara yang dihasilkan. Himbauan kepada masyarakat untuk menggunakan transportasi massal demi mengurangi jumlah kendaraan bermotor berbahan bakar dapat mengurangi polusi udara. Selain itu, Elektrifikasi kendaraan bermotor atau mengalihkan semua kendaraan bermotor berbahan bakar menjadi kendaraan yang serba listrik dengan maksud mengurangi pembakaran dari kendaraan bermotor berbahan bakar sehingga dapat mengurangi jumlah asap polusi udara yang dihasilkan. Menambah ruang terbuka juga menjadi hal yang wajib dilakukan karena tumbuhan merupakan filter udara kotor yang paling baik sehingga udara di sekitar menjadi lebih bersih. Bagaimanapun tugas kita bersama untuk menjaga kualitas udara sekitar dan mengurangi polusi udara adalah hal yang mesti dilakukan, alam telah memberikan sinyal yang jelas bahwa udara semakin rusak dan bumi menjadi tempat yang besar kemungkinannya tidak layak huni akibat kotornya udara yang ada.


Sumber : 


    Annur, C, M. 2023. Kualitas Udara Jakarta Pagi Ini Terburuk Ketiga Dunia (Selasa, 6 Juni 2023). Diakses pada 15 Agustus 2023 dari https://databoks.katadata.co.id/datapublish/2023/06/06/kualitas-udara-jakarta-pagi-ini-terBuruk-ketiga-dunia-selasa-6-juni-2023

    Dwangga, M. 2018. Intensitas Polusi Udara Untuk Penunjang Penataan Ruang Kota Pelaihari Kabupaten Tanah Laut. Jurnal Teknik Industri, 4(2), 69-77.  https://doi.org/10.33506/mt.v4i2.1461

    IQAir. 2023. Indeks Kualitas Udara (AQI) Jakarta. Diakses pada 15 Agustus 2023 dari https://www.iqair.com/id/indonesia/jakarta

    Gusnita, D. (2010). Green transport: transportasi ramah lingkungan dan kontribusinya dalam mengurangi polusi udara. Berita Dirgantara, 11(2). Rafsanjani, A. I. (2021). Polusi Udara. OSF Preprints. January, 4.







Beri Komentar