Di Balik Angka 65,3% pada Vaksin Sinovac

Februari 27, 2021

 


Kalian sudah mendapat vaksinasi Covid-19 belum? Sampai saat ini, program vaksinasi di Indonesia telah memasuki tahap II peredarannya. Pada tahap ini, vaksinasi akan diprioritaskan kepada kelompok masyarakat yaitu TNI, Polri, guru, petugas pelayanan publik, pedagang, dan lainnya. Perlu diketahui bahwa terdapat berbagai jenis vaksin yang digunakan dalam vaksinasi di Indonesia maupun di dunia internasional. Berdasarkan Keputusan Menkes RI Nomor HK.01.07/Menkes/9860/2020 tentang “Penetapan Jenis Vaksin untuk Pelaksanaan Vaksinasi Covid-19”, ditetapkan enam jenis vaksin yang dapat digunakan di Indonesia. Keenam jenis vaksin tersebut merupakan produksi dari PT Bio Farma, AstraZeneca, Sinopharm, Moderna, Pfizer Inc. - BioNTech, dan Sinovac Biotech Ltd.

Nah, vaksin yang kemarin disuntikan kepada orang nomor satu di Indonesia, Presiden Joko Widodo, adalah vaksin yang diproduksi dari Sinovac Biotech Ltd. Vaksin ini diproduksi dengan menggunakan metode inactivated virus. Pada metode tersebut, Virus Corona yang sudah dimatikan (inaktif), dimasukkan menjadi salah satu bahan baku vaksin. Berdasarkan klaim dari Sinovac Biotech Ltd.,  inactivated virus yang digunakan di dalam vaksin tersebut dapat memicu terbentuknya kekebalan pada tubuh manusia dengan diperlukannya dua kali pemberian suntikan dengan jarak pemberian antardosis 14 hari.

Meskipun telah diumumkan bahwa vaksin Sinovac akan digunakan menyeluruh di Indonesia, ternyata masih banyak masyarakat yang belum paham dan mempertanyakan efektivitas vaksin ini. Dalam meyakinkan masyarakat terkait hal tersebut, pemerintah melalui Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) Republik Indonesia telah mengeluarkan kebijakan berupa izin darurat penggunaan atau Emergency Use Authorization (EUA) sejak 11 Januari 2021. Izin ini tentunya diikuti dengan pengujian klinis mulai dari tahap I hingga tahap III dan dilanjutkan dengan melakukan pengamatan terhadap relawan vaksinasi setelah 6 bulan  disuntikkan vaksin terakhir kalinya sehingga diperoleh tingkat efikasi yang sebenarnya.

Mungkin banyak yang belum mengetahui standar izin vaksin dari WHO minimal memiliki tingkat efikasi 50%. Berdasarkan hasil sementara dari uji klinis tahap III, vaksin Sinovac memiliki tingkat efikasi 65,3%, yang mana angka tersebut telah memenuhi standar izin WHO. Nah, apa sih artinya angka 65,3% tersebut? Mengutip dari farmasi.ugm.ac.id, tingkat efikasi 65,3% atau memiliki kemanjuran 65,3% dalam uji klinis berarti terjadi penurunan 65,3% kasus penyakit pada kelompok yang divaksinasi dibandingkan dengan kelompok yang diberikan vaksin kosong (plasebo).

Lalu bagaimana cara mendapatkan angka tersebut? Mengutip dari katadata.co.id, dijelaskan terkait simulasi perhitungan efektivitas vaksin Sinovac yang bukan merupakan angka sebenarnya. Angka-angka dalam perhitungan dipilih hanya untuk tujuan edukasi dan memaknai arti dari persentase efektivitas yang dikeluarkan pemerintah. Pada tahapan uji klinis yang telah dilakukan, terdapat sampel yang divaksinasi dan diberi plasebo. Dimisalkan saat uji klinis berlangsung diikuti oleh 2000 relawan, 1000 orang divaksinasi vaksin Sinovac dan 1000 orang diberi plasebo (vaksin kosong). Setelah dilakukan pengamatan ternyata dari 1000 orang yang divaksinasi vaksin Sinovac terdapat 25 orang terinfeksi Covid-19 dan dari 1000 orang yang diberi plasebo, 72 orang diantaranya terinfeksi Covid-19. Dengan menggunakan formula sebagai berikut,

diperoleh perhitungan dari contoh kasus di atas yaitu,
 

Mungkin orang awam akan merasa angka 65,3% itu rendah, memang masih ada kemungkinan bagi yang telah divaksin akan  terinfeksi Covid-19. Namun, apabila dilihat dari hasil pengamatan 1000 orang yang divaksinasi dibandingkan yang tidak divaksinasi (plasebo), hal ini merupakan pencapaian yang cukup baik. Selain itu, tingkat efikasi ini sangat dipengaruhi oleh karakteristik  dari subjek atau sampel ujinya. Apabila pada kelompok sampel ujinya memiliki risiko tinggi untuk terinfeksi, sangat memungkinkan kelompok plasebo akan lebih banyak terinfeksi, hal ini yang menyebabkan tingkat efikasinya menjadi meningkat. Berdasarkan fakta tersebut, tingkat efikasi vaksin Sinovac dari negara satu dengan negara lain berpeluang untuk memiliki angka yang berbeda.

Sudah terpecahkan bukan, ada apa di balik angka 65,3% pada vaksin Sinovac? Jadi, kapan kalian akan divaksinasi? Setelah mendapatkan vaksinasi jangan lupakan protokol kesehatan ya, vaksinasi dilakukan agar sistem kekebalan tubuh kita meningkat, bukan berarti kebal akan virus Covid-19. So, sembari menunggu jadwal vaksinasi, kita berdoa bersama dan lakukan hal-hal positif ya teman-teman.


Beri Komentar